Warung Bebas

Senin, 14 Maret 2011

ngono yo ngono ning ojo ngono

Dalam masyarakat Jawa dikenal banyak falsafah hidup,diantaranya;

1. NGONO YO NGONO NING OJO NGONO

Maksudnya mengarahkan hidup ,agar bisa menyesuaikan diri,dan bisa ANGON MANGSA
,hendaknya dalam pergaulan bisa menempatkan ruang dan waktu.Jangan asal nyeplos (asbun) dan bertindak.

2. SEJE KULIT SEJE ANGGIT

Maksudnya setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda.

3. SEJE UWONG SEJE OMONG

Maksudnya setiap orang berbeda apa yang dikatakan/ yang dipikirkan. Jadi dalam hidup harus bisa menghargai dan mengerti terhadap orang lain,adalah sikap hidup yang bijaksana. Orang lain memiliki kejiwaan yang patut dipertimbangkan,sehingga dalam bergaul bisa KARYENAK TYASING(membuat enak hati sesama/tidak menyakiti).

4. SANGKAN PARANING DUMADI

Maksudnya, bahwa suatu sikap hidup yang bertujuan untuk mencari suatu kesempurnaan hidup melalui PANGAWIKAN (ngelmu) sangkan paraning dumadi dan manunggalih Kawulaning Gusti.Falsafah ini mengandung artian juga bahwa manusia harus berhati-hati dalam menjalani hakekat hidup.

SUNAN KALIJAGA pernah memberikan pesan secara tersirat dalam sebuah tembang Dhandanggula,yaitu;

''urip iku neng donya tan lami...

upamane jebeng menyang pasar...

tan langgeng neng pasar bae...

tan wurung nuli mantuk...

mri wismane sangkane nguni...

ing mengko aja samar, sangkan paranipun...

ing mengko padha weruha...

yen asale sangkan paran duk ing nguni...

aja nganti kesasar...

Terjemahnya; '' Dalam hidup di dunia ini tidak akan lama,ibarat manusia pergi ke pasar,akan segera kembali ke rumah asalnya tadi, karena itu jangan sampai ragu-ragu tehadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan'' Secara singkat, pesan ini mau menunjukkan bahwa di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena suatu saat akan kembali kepada Tuhan.

5. MANUNGGALIH KAWULANING GUSTI

Falsafah ini termasuk falsafah kunci dalam kehidupan manusia.Manusia harus mendekatkan dirinya kepada Tuhan,manusia dan Tuhan haruslah jumbuh.Manunggalih kawulaning Gusti akan menciptakan ketenangan batin dan lewat inilah akhirnya ditemukan sebuah keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.
Tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhan.Namun,yang perlu diingat bahwa Tuhan tetap Tuhan begitu pula manusia tetap manusia.

Manunggalih Kawulaning Gusti merupakan suatu perwujudan sikap manembah.Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar,mendekat,menyatu dan manunggal dengan Tuhan.Konsep ini berarti bahwa Tuhan bersemayam dalam diri manusia.Menurut pandangan kejawen,pada hakekatnya,manusia sangat dekat dengan Tuhan.Hanya karena ulah dan tindakan manusia itu sendiri,suatu ketika,jarak antara Tuhan dan manusia menjadi sangat jauh atau ada batasnya.Ini menjadi tugas manusia untuk senantiasa mendekat dan atau menyatu dengan Tuhan agar mendapat anugerahNya. Manunggalih kawulaning Gusti merupakan suatu pengalaman dan bukan suatu ajaran. Pengalaman ini bisa terjadi secara subjektif atau dalam bentuk kolektif.Hal ini dapat diperoleh melalui jalan laku konsentrasi,pengendalian diri,pemudharan (kebebasan batin dari dunia inderawi),menguasai ngelmu sejati dan tahu hakikat hidup.

6. MEMAYU HAYUNING BAWANA/KHALIFAH

Memayu hayuning bawana berarti watak dan perbuatan yang senantiasa mewujudkan dunia selamat,sejahtera dan bahagia. Seharusnya manusia berbuat untuk kepentingan sesamanya dan orang banyak bukan didorong oleh keinginan individual.Oleh karena itu,hendaknya manusia berperilaku ke arah ketenteraman hidup dan bukan konflik terus menerus.Sikap dan perilaku manusia Jawapun perlu dilandasi kehendak untuk menghiasi dunia dan bukan merusak tatanan dunia.Ini artinya memayu hayuning bawana berarti juga bagaimana manusia menjaga perdamaian dunia.

Walaupun demikian, pengertian memayu hayuning bawana bukan berarti tidak hanya tidak perang saja, atau kalau sekarang tidak hanya sekedar doktrin politik luar negeri bebas aktif untuk menjaga perdamaian dan ketertiban dunia. memayu hayuning bawana berarti lebih dari itu. Ini karena,memayu hayuning bawana tidak lepas dari aspek kewajiban luhur dan sikap hidup manusia.Hakekat hidup tidak akan lepas dari upaya berbuat baik terhadap sesama.Sikap semacam ini,tergolong perilaku yang terpuji karena mampu menghiasi dan memperindah dunia.Ketenteraman dan kedamaian adalah dasar kemuliaan hidup,dunia sekitar manusia adalah ciptaan Tuhan yang patut dihiasi dengan perbuatan baik.

Ada 5 falsafah jawa yang berguna untuk kita menghadapi perjalanan
kehidupan kita;
1. Kukilo (Burung)
2. Wanito (Wanita)
3. Curigo (Waspada)
...4. Turonggo (Kuda)
5. Wismo (Rumah)

1. Kukilo (Burung)
Kebanyakan orang jawa selalu memelihara binantang peliharaan, dan
kebanyakan pula binatang peliharaan yang umum di rawat adalah burung perkutut. Karena suaranya yang bagus merdu dan menentramkan suasana.
Didalam kehidupan ini kita harus bisa mengikuti burung perkutut,
yaitu dengan selalu bersuara yang bagus untuk didengar oleh orang
lain, tidak selalu mengeluarkan suara yang bisa menyakiti hati orang lain.

2. Wanito (Wanita)
Wanita secara universal melambangkan kelembutan, cinta kasih,
perasaan sayang. Kita hidup didunia pastilah berada ditengah-tengah
manusia dan makhluk lainnya. Kita harus selalu memberikan rasa
kelembutan kita, cinta kasih kita dan rasa sayang kita kepada semua makhluk ciptaan sang Maha Kuasa.

3. Curigo (Waspada)
Didunia kita pasti tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita
beberapa detik, menit atau jam kedepan. Dengan sikap waspada ini maka kita diharapkan bisa selalu waspada akan gerak dan sega tingkah laku kita agar kejadian yang akan datang tidak menjadikan penderitaan pada diri kita sendiri. Curigo juga bisa diartikan dengan Eling terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena Beliau lah yang menciptakan masa lalu, masa sekarang dan masa depan kita.

4. Turonggo (Kuda)
Untuk dapat mengendalikan kuda disaat kita menungganginya, maka tali kendali yang harus kita pegang erat. Dalam kehidupan pengendalian diri akan segala nafsu dan ego harus kita kendalikan. Bukan dengan mengumbar nafsu, ego dan angkara murka.

5. Wismo (Rumah)
Rumah, setiap kali kita pergi pasti akan kembali kerumah. Dari sini diartikan kita hidup didunia ini hanya keluar sebentar dari rumah
kita yang sebenarnya,dan suatu saat pasti akan kembali ke rumah
abadi kita yaitu rumah Tuhan.

Minggu, 13 Maret 2011

bacan islami peningkat keimanan kita

saya rasa basaan2 ini sangat bagus untuk menambahkan rasa keingin tauan kita tentang agama ini.. bagi yang membaca silahkan download disini garatis 100% tanpa di pungut biaya..
buku 1
buku 2

gratis 1000% ebook kaya dari internet

ebook gratis 100% tanpa di pungut sepeser pun.. silahkan klik link nya.. di sni..
link 1
link 2
link 3
link 4
link 5

Senin, 14 Juni 2010

COURSE DESIGN

General curriculum planing

Taba’s outline(1962:12) :

1. Diagnosis of needs
2. Formulation of objectives
3. Selection of content
4. Organization of content
5. Selection of learning experiences
6. Organization of learning experiences
7. Determination of what to evaluate, and the means to evaluate

Chapter 1 The fact finding stage

  • Key question: a) who are the learner? b) who are the teacher? c) why is the program necessary? d) where will the program be implemented? e) how will it be implemented?
  • Assembling data two basic data: collecting that appears in governmental and other institutional documents.
  • Patterns of language use in society : the role language of wider communication (LWC) in education, in the labor market, and in furthering the process of modernization.
  • The politicali and national context.

Chapter 2 The basis 4 curriculum n syllabus design

  • Affter fact-finding 1st, they use the information gathered in order to set broad policy: what are the significant, overall objectives of language program? 2st, the define the audience as fully as possible: is the a uniform group or the sub groups. 3st, they consider how the program can best be suited the particular system, community, or language course.
  • Surveying existing program include existing syllabus, textbooks, and other materials.
  • Curriculum components : 1) a behaviorist orientation (consider human species to be passive organism, reacting of to external, environmental stimuli) 2) a rational cognitive orientation (the human species to be sources the initiator of all acts). 3) humanistic orientation (each individual’s growth and development).

Chapter 3 goals become instructional plans

  • Curriculum goals tend to place emphasis one or another of dimensions of language content, process/ means, and product or outcomes.
  • Language content component in traditionally are language content, or structure, grammatical form etc. In language course include thematic (interest topics and themes use in target language) and situational (context within which the theme and the linguistic topics are present) content.
  • The process dimension, refers to how the instruction carried out and learning is achieved. Get result as 1) organitation of language content, 2) the role of teacher and learner in learning process. 3) the types of activities and tasks.
  • The product dimension, refers to specification of the expected outcomes of course of study.

Chapter 4 developed on Communicative goals

  • Communicative curriculum draws from 3 major areas: a view of nature of language as seen by sociolinguistics, a cognitively based view of language learning, and a humanistic approach in education.
  • Sociocultural view, communicative competent entails knowing not only the language code or the form of language but also what to say to whom and how to say it appropriated in any given content.

Chapther 5 the scope of comm.. syllabus

  • In language content, the shift has been marked by enlargement in the scope of entire are. The process zone has been emphasized through attention global, cognitive, and creative practices that call as workouts. The product area has reflected re-emphasized interest in the language skill especially reading and writing.
  • Not only content but also function and not replaces old method.
  • Old method, based on structural, grammatical. Communicative method, how should language learn, analytic (process in learning language).
  • Expanded: content area (-semantic grammatical categories, -functional categories, -themes)
  • Expanded: process area (-cognitive, -creative, -global workouts)
  • Expanded: product area (-skill emphasis, -learner needs, -learner autonomy)
  • Workouts are activities which enhance the learner overall acquisition process. Ex: operations/transformation, warm-up/relaxers, theater games ect.

Chapter 6 content

  • To integrate the various elements of expanded content is present linguistic form systematically to enable learners to express the basic notions of lg, use the communicative content o allow learners to interact within a wide range of CL function, use a variety of text-types both in the oral and written form.

Chapter 7 process

  • The materials include of the learner needs, the sociocultural aspects need to be cast quite different from the traditional approach to grammar.
  • The holistic of workouts (such as warm-up, improvisation, simulation, and socio-drama) and role play (construct in sociology in various classification)
  • Role play consist of: the situation, the role, and the useful expression. Advised to 1) avoid putting old wine in new bottles. 2) provide a focus. 3) provide preparation. 4) decide: playing self or other? 5) provide motivation . 6) consider cross-culture implications. 7) provide a follow up.

Chapter 8 product

  • From the theory to practice model;
  • in reaching skill concern on element:
  • a. reading strategy, textual analysis, second language learner-reader characteristics. Mention skimming and scanning, guessing and predicting.
  • b. Designer tasks: 1. Workout that bring about interaction with the text, 2. Providing a variety of materials o read, 3. Selecting texts appropriate for L2 learner readers.
  • c. Effective reading materials provide exercise which help learners find characteristics of the writing itself.

Chapter 9 the link between syllabus and audience

  • Writing for local (non-commercial-sponsored project. should be familiar with the needs of learner, age, level proficiency, degree mortification, cultural learning style, etc )or wider audience (commercial SP, the difficult can be ignored is age, cos children are not the same as adult learners. The most important factor is not knowing the curriculum or syllabus, let alone the objectives of the audience. ). The issue is about the culturally bound elements.
  • Finding the publisher to product can be a governmental agency, an educational institution, or a publisher, perhaps combination of the three.
  • Team of writing : a. An idealized team and team that totally responsible that their own project part.

Kamis, 10 Juni 2010

komunikassi

KOMUNIKATOR

Adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Oleh karena itu komunikator biasa disebut pengirim, sumber / source atau encoder.

Syarat Menjadi Seorang Komunikator :
·Mengenal diri sendiri
·Kepercayaan
·Daya Tarik
·Kekuatan

PESAN (KODE VERBAL DAN NONVERBAL)

Dalam memberikan pesan dalam proses komunikasi. kita tidak bisa melepaskan diri dari apa yang disebut simbol dan kode karena pesan terdiri dari atas rangkaian simbol dan kode. Simbol adalah lambang yang memiliki suatu objek.
Kode adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis dan teratur sehingga memiliki arti.

Kode Verbal
Dalam pemakaiannya menggunakan bahasa. Bahasa adalah seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti.

Kode Nonvebal
Manusia dalam berkomunikasi selain memakai kode verbal juga memakai kode nonverbal. Kode nonverbal biasa disebut bahasa isyarat atau bahasa diam (silent language). Kode nonverbal biasa dibagi menjadi beberapa bentuk :
·Kinetik (ditunjukan oleh gerakan badan)
·Gerakan Mata
·Sentuhan
·Diam
·Postur tubuh
·Kedekatan dan ruang
·Artifak dan visualisasi
·Warna
·Waktu
·Bunyi
·Bau
Penyusunan pesan ada bersifat informatif yang lebih menekankan pada perluasan wawasan dan kesadaran khalayak.
Penyusunan pesan yang bersifat persuasif memiliki tujuan untuk mengubah persepsi, sikap dan pendapat khalayak.

MEDIA

Alat atau sarana yang digunakan unutk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak.
Dalam hal ini Media digolongkan menjadi :

·Media Antarpribadi
·Media Kelompok
·Media Publik
·Media Massa.

GANGGUAN DAN RINTANGAN KOMUNIKASI

Gangguan pada Komunikasi :
1.Gangguan teknis
2.Gangguan sistematik dan psikologis
3.Rintangan fisik
4.Rintangan status
5.Rintangan kerangka berfikir
6.Rintangan budaya

Hambatan-Hambatan Komunikasi
1. Berkomunikasi sesuai tingkatan bahasa para pendengarnya.
Seorang pedagang makanan yang hanya lulusan SMA tentunya akan kesulitan mengerti pembicaraan seorang sarjana teknik yang berbicara menggunakan istilah-istilah tekniknya.

2. Mengerti keinginan arah pembicaraan dari para pendengarnya.
Sekelompok remaja Mahasiswa tentunya wajar jika tidak tertarik pada pembicaraan mengenai permasalahan bagaimana merawat dan mendidik balita yang disampaikan seorang ibu rumah tangga.

3. Mengerti kelas sosial para pendengarnya.
Sekelompok petani didesa tentunya tidak mengerti dan tidak tertarik pada pembicaraan seorang pialang mengenai perdagangan saham.

4. Memahami latar belakang serta nilai-nilai yang dipegang teguh para pendengarnya.

KHALAYAK
Disebut juga sebagai penerima pesan. Dalam berkomunikasi, khalayak adalah salah satu peran yang paling penting. Khalayak bisa berupa Individu, Kelompok, atau Masyarakat.
Aspek yang harus diketahui oleh komunikator menyangkut khalayak adalah :

· Aspek sosiodemografik
· Aspek profil psikologis
· Aspek perilaku khalayak.

PERKEMBANGAN TERAKHIR ILMU KOMUNIKASI
Sekarang ini perkembangan ilmu komunikasi terjadi semakin cepat dan pesat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Karena ilmu komuikasi adalah ilmu yang dianggap penting bagi semua orang, karena tanpa komunikasi kita tidak dapat melakukan dan melanjutkan kehidupan sekarang dan yang akan datang

UAS Pengkom

Terdapat 12 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat komunikasi yaitu :

Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.

Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.

Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.

Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai)

Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktuPesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.

Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta. komunikasi Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.

Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemik

Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.

Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya
semakin efektiflah komunikasi Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.

Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.

Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible
Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.

Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah
Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Minggu, 16 Mei 2010

KEWIRAUSAHAAN

Kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko. Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang, Berdasarkan hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif. Tujuan MKU adalah: (1) meningkatkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki, (2) meningkatkan pengetahuan kewira-usahaan mahasiswa baik dalam hal keilmuan maupun pengalaman berwirausaha, (3) meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan kalangan masyarakat di perusahaan, (4) memacu motivasi kewirausahaan mahasiswa yang berminat menjadi calon wirausaha, (5) membuka peluang untuk memperoleh pengalaman praktis kewirausahaan bagi dosen pembimbing mahasiswa, dan (6) menciptakan keterkaitan dan kesepadanan antara perguruan tinggi dengan usaha kecil dan menengah.
Cara membangkitkan minat dalam berwirausaha adalah dengan melihat keberhasilan orang lain dalam berwirausaha, dari hal ini kita bisa menumbuhkan minat kita dalam suatu usaha. Selain itu banyak hal lagi yang dapat kita lakukan seperti melakukan usaha yang sesuai dengan hobi kita, bila kita melakukan usaha berdasarkan hobi kita maka kesan kita tidak lah sedang melakukan usaha tetapi sedang menekuni hobi. Untuk membangkitkan motivasi kita untuk berwirausaha antara lainnya: a. Selalu Perspektif
Seorang wirausahawan hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda dengan yang sudah ada. a. Memiliki Kreatifitas Tinggi, Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda. oleh karena itu menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. mengungkapkan bahwa ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating something from nothing).
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya Hambatan yang dihadapi dalam memulai wirausaha antara lain :
a. Kurangnya persiapan atau perencanaan.
Dalam suatu usaha bahwa perencanaan yang matang mutlak diperlukan, tanpa perencanaan yang baik mungkin kondisi tertentu akan sulit dihindari. Membuka usaha tertentu harus ada target yang hendak dicapai, strategi apa yang akan diterapkan, bagaimana mengantisipasi kemungkinan hambatan yang muncul secara tiba-tiba, serta cara atau strataegi untuk mengatasinya.
b. Kurang atau lemahnya pengetahuan yang kita miliki.
Jangan sekali-kali melakukan usaha tertentu tanpa pengetahuan yang memadai, resikonya terlalu besar dan mungkin kita akan membayar jauh lebih mahal, yakni ancaman kemandegan dan kegagalan usaha yang telah dirintis sementara modal dan pengorbanan yang sudah terlanjur besar.
c. Kurangnya sarana dan fasilitas usaha.
Sarana dan prasarana usaha merupakan faktor pendukung kegiatan usaha, terabaikannya kesiapan fasilitas atau instrumen dalam mendukung suatu usaha berupa modal, alat-alat produksi, lingkungan yang kondusif akan menghambat aspek produksi dan menurunkan daya saing termasuk kinerja para karyawan atau dengan kata lain menjadi faktor penting dan berpengaruh besar dalam mencapai sasaran atau tujuan dari usaha kita.
d. Kurang disiplin atau tidak konsisten dalam menjalankan usaha.
Dalam memulai suatu usaha atau untuk mencapai sesuatu harus dilakukan secara totalitas, penuh perhatian dan konsisten terhadap seluruh aspek yang mendukungnya, ketidakkonsistennya terhadap masalah yang dihadapi baik dalam pengambilan keputusan, melihat peluang pasar maupun mutu produk merupakan salah satu penyebab dari kebuntuan dan kegagalan suatu usaha.
Kondisi-kondisi tersebut merupakan sebagian dari penyebab suatu kemandegan usaha atau justru menimbulkan kegagalan usaha. Kekuatiran terjadinya kebuntuan dan kemandekan usaha merupakan kondisi alamiah yang bisa terjadi kepada siapa saja hendaknya disikapi secara wajar dan berupaya mengetahui permasalahannya untuk dicarikan jalan keluarnya, jiwa entrepreneur yang ada harus ditumbuh kembangkan jangan terkungkung pada kekuatiran tanpa adanya keberanian menjemput tantangan dalam berusaha.
Mengatasi Hambatan Yang Dihadapi
Sebagai modal agar kita bisa mengatasi kemandegan usaha, salah satu bekal yang harus dimiliki seorang entrepeneur adalah memiliki kemampuan dalam mengenali pasar potensial sebagai sasaran produknya. Penentuan segmen pasar ini menjadi penting karena dengan hal ini maka usaha akan bisa berjalan dengan lebih efektif (tepat sasaran), efisien (hemat) dan membuat orang akan mengingat perusahaan karena spesialisasi tersebut. Wirausahawan harus dapat memanfaatkan peluang pasar. Faktor-faktor yang ada kaitannya dengan menilai peluang-peluang pasar baru meliputi ; riset pasar, pengumpulan data dari berbagai sumber dan memilih lokasi bisnis.
- Riset pasar
Riset pasar dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih baik dan bertujuan untuk mengumpulkan informasi dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu riset pasar dapat membantu untuk :
Menemukan pasar yang menguntungkan, Memilih produk yang dapat dijual, Menentukan perubahan dalam perilaku konsumen, Meningkatkan teknik-teknik pemasaran, Merencanakan sasaran-sasaran yang realistik.
- Pengumpulan data dari berbagai sumber
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan observasi di lingkungan sekitar, dengan memahami trend kita dapat mendapatkan informasi tentang kebutuhan calon konsumen dan tentunya akan didapatkan juga gambaran pasar yang dapat menjadi target produk. Cara lainnya adalah dengan melakukan riset kecil yang didasarkan pada observasi pada pelaku-pelaku usaha lain sehingga dapat dibandingkan antara data dari objek satu dengan lainnya dan dapat ditarik kesimpulan akan kondisi usaha ataupun pasar sehingga wirausahawan dapat menentukan target pasar yang dibidik.
- Memilih lokasi bisnis
Lokasi tempat usaha menjadi pilihan krusial karena akan menentukan apakah bidang usaha yang dipilih daat berkembang dengan baik atau justru akan terpuruk. Produk yang diberikan suatu bidang usaha akan banyak dikenal bahkan diminati konsumen jika lokasi usaha terletak dekat dari lingkungan mereka. Penentuan lokasi bisnis ditentukan setelah pasar sasaran telah ditentukan agar efektif dan efisien.
Tujuan Kewirausahaan:
1.Meningkatkan jumlah para wirausaha yang berkualitas.
2.Mewujudkan kemampuan dan kemantapan para wirausaha untuk menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
3.Membudayakan semangat sikap,perilaku,dan kemampuan kewirausahaan dikalangan pelajar dan masyarakat yang mampu, handal, dan unggul.
4.Menumbuh kembangkan kesadaran dan orientasi kewirausahaan yang tangguh dan kuat terhadap para siswa dan masyarakat.
Manfaat Wirausaha:
1.Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan, sosial, sesuai, dengan kemampuan
2.Menambah daya tampung tenaga kerja,sehingga dapat mengurangi pengangguran
3.Memberi contoh bagaimanaharus bekerja keras tekun,tetapi tidak melupakan perintah agama
4.Menjadi contoh bagi anggota masyarakat sebagai pribadi unggul yang patut diteladani
5.Sebagai generator pembangunan lingkungan pribadi, distribusi, pemeliharaan, lingkungan, dan kesejahteraan.
 

Tips Kaya dari Internet Gratis Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger